Tampilkan postingan dengan label Pengabdian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengabdian. Tampilkan semua postingan

Pelatihan Pengolahan Obat Tradisional Daun Sirsak (Anona muricata) Pada masyarakat Untuk Pencegahan penyakit kanker di Desa Taraweang Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep

Dosen STIKES Nani Hasanuddin Makassar, Rahmatullah Muin, S.Farm, M.Si, Muthmainna B,S.Si,M.Si,Apt dan La Sakka,S.Farm,M.Si,Apt Melaksanakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat dengan Judul “Pelatihan Pengolahan Obat Tradisional Daun Sirsak (Anona muricata) Pada masyarakat Untuk Pencegahan penyakit kanker di Desa Taraweang Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkep” dengan ringkasan hasil sebagai berikut
Pengobatan kanker secara medis yang selama ini dilakukan adalah melalui pembedahan (operasi), penyinaran (radiasi) dan terapi kimia (kemoterapi). Akan tetapi, pengobatan tersebut sering menimbulkan efek samping seperti penyebaran sel kanker ke 5 bagian lain, merusak sel sehat, serta dapat mengakibatkan sel kanker bermutasi hingga sulit untuk dihancurkan. Oleh karena itu, penemuan obat baru yang efektif, aman, dan tidak menimbulkan efek samping sangat diperlukan sehingga yang menjadi perhatian adalah kemoterapi, yaitu penggunaan bahan-bahan bioaktif dari hasil sintesis atau isolasi bahan alam.
Salah satu jenis tanaman yang dapat yang memiliki aktivitas sebagai agen kemopreventif adalah sirsak, terutama pada daunnya. Zat aktif dalam tanaman sirsak yang mampu berperan sebagai antikanker adalah Annonaceous acetogenins.. Selain itu, senyawa triterpenoid dan flavonoid di dalam daun sirsak juga memiliki efek antikarsinogenesis (Retnani, 2011). Pada penelitian yang dilakukan Retnani (2011) telah terbukti ekstrak daun sirsak dapat menghambat proses onkogenesis. Namun, yang sekarang digunakan oleh masyarakat Indonesia secara umum adalah rebusan atau infusa daun sirsak..Tujuannya adalah dilakukan Pelatihan Pengolahan Obat Tradisional Daun Sirsak (Anona muricata) Untuk Pencegahan Kanker  Di Desa Taraweang.
Hasil Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan P3M ini dilaksanakan dalam bentuk ceramah, tanya jawab dan diskusi yang diberikan pada masyarakat di Desa Taraweang Kec Labakkang Kab Pangkep. Kegiatan ini laksanakan selama 1hari, yaitu pada tanggal 1 Juli 2019 09.30 – 17.00 WITA. Proses penyelenggaraan penyuluhan ini dilakukan per dusun, dimana peserta dalam kegiatan ini merupakan masyarakat yamg telah pernah menggunakan daun Sirsak sebagai obat. Kegiatan ini diawali dengan pengenalan dan penggalian pengetahuan peserta penyuluhan terkait dengan penyakit kanker. Peserta kemudian diberikan waktu untuk mengisi daftar hadir yang kemudian dilanjutkan dengan ceramah dan diskusi yang berjalan lancar dalam pelaksanaannya. Pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan pemberian materi oleh pemateri dibantu dengan media pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan pelatihan yang diberikan.
Jumlah peserta sebanyak 25 orang dimana terdiri dari 5 perempuan dan 20 laki-laki. Ibu-ibu berasal dari para kader desa dan bapak-bapak ada yang sebagai ketua RT/RW dan ada pula sebagai kepala Dusun di Desa Taraweang. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan yang kami harapkan para peserta sangat antusias dalam kegiatan ini. Target peserta pelatihan seperti rencana awal merupakan masyarakat yang menggunakan obat tradisional khususnya Daun Sirsak. Dalam pelaksanaan pemberian materi, penambahan pengetahuan tidak semuanya mudah diserap dalam waktu singkat, sehingga pentingnya pemberian pengetahuan lebih lanjut dengan memberikan pelatihan. Ketercapaian dalam pelatihan ini adalah masyarakat mampu dalam mengolah obat tradisional daun sirsak sesuai dengan cara pembuatan obat tradisional dengan baik (CPOTB) sehingga masyarakat dapat mengkonsumsi obat tradsional sesuai dengan standar pembuatan dan kita bisa mencegah adanya penyakit kanker sejak dini. 


Program Pengembangan Rumah Literasi Laktasi Berbasis Komunitas pada Komunitas Pendukung ASI (KP-ASI) Lactalover Makassar

Salah satu bentuk hilirisasi teknologi dan ilmu pengetahuan adalah kebermanfaatan hasil penelitian yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Ini merupakan tujuan utama dari salah satu tri dharma perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat. Sesuai dengan kebijakan. Permen Ristekdikti Nomor: 44 Th 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-PT), setiap dosen sedikitnya wajib melakukan kegiatan ini sekali dalam setiap semester, tentunya mempertimbangkan cakupan manfaat kegiatan bagi masyarakat luas. Salah satu dosen STIKES Nani Hasanuddin Makassar, DR. Azniah Syam, SKM,M.Kes Bersama dengan anggota tim Kegiatan PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) Hasifah, S.Kep,Ns, M.Kes telah berhasil menyelesaikan beberapa kegiatan pengabdian dalam kurun tahun akademik 2018/2019 (Genap) dan 2019/2020 (Ganjil). Program yang telah direncanakan pada awal tahun 2018 lalu, mendapat dukungan penuh dari Lembaga P3M STIKES NANI Hasanuddin Makassar. Adapun kegiatan yang dilakukan bertajuk “Program Pengembangan Rumah Literasi Laktasi Berbasis Komunitas pada Komunitas Pendukung ASI (KP-ASI) Lactalover Makassar”. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya peningkatan program promosi ASI yang direkomendasikan oleh WHO dalam sepuluh langkah kesuksesan menyusui, yakni mendorong pembentukan kelompok kelompok pendukung ASI (WHO, UNICEF, & IBFAN, 2016). KP-ASI yang terbaik adalah orang-orang yang berada dekat dengan kehidupan ibu atau kelompok masyarakat yang memiliki intensitas interaksi yang tinggi dan cenderung homogen (kultur dan sosioekonomi). Komunitas ibu adalah kelompok fokus utama dalam kegiatan menyusui yang terlibat langsung bersama bayi di tengah keluarga. Menggandeng mitra Kelompok Pendukung ASI “Lactalover Makassar” sebagai sasaran pengembangan dan peningkatan kapasitas. Lactalover Makassar adalah salah satu kelompok pendukung ASI yang terbentuk sejak Juni 2017. Berbasis di Wilayah Kota Makassar, kelompok ini sudah beranggotakan sekitar 145 ibu, baik yang sedang menyusui, yang telah melewati fase menyusui, yang sedang hamil ataupun yang baru merencanakan untuk berkeluarga. Kehadiran kelompok ini berawal dari kesamaan persepsi mengenai betapa beratnya menjalankan peran sebagai ibu baru dalam hal menyusui tanpa dukungan dari teman sebaya. Visi kelompok ini adalah menuju literasi ASI dan 80% ibu menyusui hingga dua tahun di Kota Makassar pada tahun 2030. Misi yang mereka bawa yakni menjadi inspirator produktif ASI dimanapun dan kapanpun, mengajak sebanyak-banyaknya ibu untuk menjadi peer-konselor, dan mengedukasi keluarga (suami, ibu, mertua, kakak, adik, sepupu) tentang pentingnya ASI bagi kehidupan Anggota KP-ASI Lactalover adalah ibu-ibu yang didominasi oleh ibu rumah tangga dan sebagian kecil ibu bekerja, berlatar belakang Bugis-Makassar. Pendekatan budaya dipandang juga perlu dilibatkan dalam memberikan solusi untuk membangkitkan gerakan yang dibawa oleh kelompok ini. Berdasarkan skala prioritas yang diharapkan dari kerjasama pengembangan komunitas ini maka, dipilihlah kegiatan peningkatkan kapasitas pengetahuan individu anggota KP-ASI Lactalover Makassar melalui program terstruktur pelatihan dasar sebagai konselor menyusui sesama ibu. Menyiapkan SDM Kelompok yang berkualitas adalah strategi yang kami pandang sebagai faktor utama yang akan menggerakkan kelompok ini mencapai visi dan misisnya.

Metode pelaksanaan kegiatan akan dibagi menjadi empat tahap yakni:

1. Tahap Inisiasi dan Seleksi
Pada tahap ini, kami akan memilih dan menyeleksi beberapa anggota kelompok dengan kriteria tertentu (memiliki nilai dedikasi yang tinggi terhadap ASI, dibuktikan dengan riwayat kesuksesan memberikan ASI secara Esklusif pada anak-anaknya, memiliki waktu dan bersedia meluangkan waktu untuk memberi bantuan praktis yang diharapkan oleh anggota komunitas). Berdasarkan hasil seleksi dan rekomendasi dari kelompok KP-ASI Lactalover Makassar memilih 13 peserta dari 29 yang mengajukan diri untuk ikut pelatihan. Kriteria seleksi yang menjadi dasar ialah ibu yang memiliki pengalaman menyusui bayi secara eksklusif, dan diperpanjang selama dua tahun; memiliki sikap yang positif terhadap promosi ASI, bersedia untuk membantu sesame anggota kelompok yang menemui hambatan menyusui, berdedikasi pada peran yang telah dipilih Bersama dengan anggota komunitas lainnya.

2. Tahap Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan pelatihan akan dilakukan dalam satu hari dengan membagi pelatihan menjadi enam sesi. Tiga sesi pertama adalah pendalaman materi seputar ASI dan menyusui, disertai dengan praktik. Tiga sesi berikutnya adalah pembekalan keterampilan konselor disertai dengan praktik. Semua materi pelatihan diadaptasi dari Modul 40 Jam WHO/UNICEF Pelatihan Konselor Laktasi Nasional.
Proses Kegiatan Pelaksanaan Pelatihan (Sesi 2-4)
Kegiatan pelatihan dilakukan pada tanggal 14 April 2019 dilaksanakan di Hotel Jolin Makassar. Peserta pelatihan terdiri dari 12, kegiatan dimulai pada pukul 08.00-18.00.
Kegiatan pertama diawali dengan pelaksanaan pre-test, yang terdiri dari tiga dimensi pengetahuan menyusui yakni manfaat ASI, mekanisme pengeluaran ASI, dan keterampilan menyusui. Instrument penilaian terdiri dari 15 pertanyaan. Kemudian dilanjut dengan pemberian materi pendalaman ilmu pengetahuan dan keterampilan laktasi dalam tiga sesi secara berturut-turut: Manfaat Menyusui, Cara Kerja Menyusui dan Menilai Proses Menyusui. Kemudian Praktik Menilai Kegiatan Menyusui. Dilanjutkan dengan materi pendalaman keterampilan komunikasi dan konseling dalam tiga sesi secara berturut-turut: Keterampilan Mendengar dan Mempelajari, Keterampilan Membangun Percaya Diri dan Memberi Dukungan, dan Kemampuan Mempertahankan Menyusui. Sesi pelatihan kemudian ditutup dengan post-test.
Berdasarkan hasil analisis data (paired sample t-test) dan uji normalitas data (Kologorof Smirnov p>0.2), nampak berbeda secara bermakna perubahan pengetahuan ibu setelah mengikuti pelatihan.
Foto Bersama pemateri dan peserta pelatihan
3. Tahap Evaluasi Hasil Kegiatan
Evaluasi hasil kegiatan terdiri dari tiga, yakni pre-test sebelum berlangsung kegiatan, diakhiri dengan post-test setelah pelatihan. Evaluasi kedua yakni, peserta pelatihan harus melaporkan hasil pelaksanaan konseling kepada klien di lapangan (Ibu menyusui) dalam bentuk form terstruktur disertai bukti konseling. Evaluasi ketiga adalah bentuk konfirmasi dari klien yang telah diberi konseling, lebih kepada survei kepuasan selama berinteraksi dengan peer-konselor. Pada pre-test, rata-rata peserta mendapatkan nilai 9,00 untuk pengetahuan dan keterampilan menyusui. Setelah pelatihan rata-rata nilai peserta meningkat menjadi 10.5.
Perbandingan skor penilaian sebelum dan setelah pelatihan peer konselor laktasi

Walaupun peningkatan nilai hanya 1.5 point namun secara bermakna rentang seluruh skor meningkat secara bermakna meninggalkan kuadran pertama pada bagan boxplot di atas. Nilai minimum sebelum pelatihan adalah 7.00 menjadi 8.00 setelah pelatihan. Dan nilai tertinggi setelah pelatihan adalah 13.
4. Tahap Evaluasi Outcome Konseling Terhadap Beberapa Anggota KP-ASI Lactaover Makassar
Tahapan ini adalah penilaian kinerja peer-konselor selama dua bulan setelah pelatihan, dengan melihat keaktifan grup konseling dan indicator peningkatan jumlah anggota dan kegiatan rutin bulanan yang terlaksana dipandu oleh peer konselor terlatih.
Setelah dua bulan pelaksanaan kegiatan pelatihan peer konselor, mereka yang terlatih tersebut diminta untuk melaporkan kinerja selama dua bulan paling tidak membantu mengatasi permasalahan seputar laktasi dengan merapkan dua keterampulan utama komunikasi dan konseling, yakni latihan mendengar dan memahami, membangun percaya diri dan memberi dukungan dan, mempertahankan menyusui. Melalui form survei terhadap seluruh anggota KP-ASI yang tergabung dalam grup whatsapp, kami mendapatkan kesan bahwa, ketanggapan peer konselor dalam menjawab keluhan-keluhan seputar menyusui menjadi lebih cepat, dibandingkan sebelum adanya peer-konselor dalam kelompok. Kemudahan memperoleh pelayanan informasi meningkat karena ada sepuluh ibu yang siap memberikan informasi dan bantuan praktis bila diperlukan, semakin banyak ibu yang mengajak teman teman sesama ibu untuk bergabung dalam KP-ASI Lactalover Makassar karena merasa kelompok ini sangat membantu dalam proses belajar menyusui, barrier wilayah, waktu, jarak dapat diatasi melalui konseling berbasis grup.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mampu meningkatkan kapasitas para ibu rumah tangga khususnya ibu menyusui untuk sama-sama menguatkan peran dalam mendukung upaya literasi laktasi. Pelatihan peer-konselor mampu mengatasi hambatan jarak, waktu, dan tempat bagi ibu menyusui untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan pada saat menghadapi kendala dalam memberikan ASI.

Kedepan diperlukan perluasan dampak kegiatan kemitraan bersama, agar dapat dirasakan oleh lebih banyak ibu, dan meningkatkan kemandirian, mentalitas, dan kapasitas ibu sebagai penggerak rumah tangga. Menyusui adalah tanggungjawab ibu, tapi memberi kesempatan bagi ibu menyusui lebih lama adalah tanggung jawab seluruh masyarakat.

Pemberdayaan Ibu Hamil dalam Menjaga Kesehatan Fisik dan Psikologi Melalui Yoga Prenatal



World Health Organization (WHO) tahun 2007 memperkirakan sekitar 75-85% dari seluruh wanita hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta mengancam jiwanya. Departemen kesehatan menyebutkan angka kematian ibu di Indonesia tahun 2012 mencapai 359/100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian ibu sebesar 90% terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan, Penyebab langsung kematian ibu yaitu perdarahan sebesar 28%, eklamsia sebesar 24%, dan infeksi sebesar 11%, sedangkan penyebab tidak langsung kematian ibu adalah Kurang Energi Kronik (KEK) pada saat kehamilan sebesar 37%,dan anemia pada saat kehamilan sebesar 2 40%.

Arisna Kadir, S.ST.,M.Keb melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat melalui kegiatan "Pemberdayaan Ibu Hamil dalam Menjaga Kesehatan Fisik dan Psikologi Melalui Yoga Prenatal". Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Desember 2017 - Februari 2018 di Puskesmas Tamalanrea Jaya.
Program Kelas Ibu Hamil

Program kelas ibu hamil adalah salah satu bentuk pendidikan prenatal yang dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil, terjadi perubahan perilaku positif sehingga ibu melakukan pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan dan merencanakan proses persalinan di tempat pelayanan kesehatan agar menurunkan angka kematian ibu dan Anak. Adapun hasil yang ingin dicapai dari penyelenggaraan yoga prenatal untuk mengubah prilaku ibu agar melakukan melakukan olahraga rutin, mengubah pemikiran ibu bahwa kegiatan sehari – hari bukan bentuk olahraga, ibu terbiasa melakukan tehnik relaksasi dalam pernafasan dan menjadi lebih siap dalam menghadapi persalinan. 

Sasaran kegiatan yoga prenatal ini adalah seluruh ibu hamil pada umur kehamilan >24 minggu (trimester III), karena pada umur kehamilan ini kondisi ibu sudah kuat, tidak takut terjadi keguguran, dan dapat dipantau  sampai ibu bersalin. Jumlah peserta yoga prenatal dilakukan bersama seluruh peserta ibu hamil agar gerakan yang dilakukan dapat lebih optimal, menjalin hubungan emosional dan meningkatkan semangat.

Adapun luaran yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah :
1. Dapat meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang :
    a. Pengolahan kesehatan fisik dan psikologi dengan pemberdayaan diri melalui yoga
    b. Persiapan ibu menghadapi persalinan
    c. Latihan pernafasan dalam menghadapi nyeri persalinan
2. Dapat mengubah perilaku ibu hamil tentang :
    a. Pentingnya melakukan yoga prenatal untuk menjaga kesehatan fisik dan psikologi
    b. Ibu mampu menguasai tehnik relaksasi pernafasan untuk mengurangi nyeri dan menghadapi 
        persalinan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat dilaksanakan dalam bentuk pendidikan kesehatan dan pelatihan pada ibu hamil agar dapat memberdayakan diri dalam menjaga kesehatan fisik dan psikologi dengan metode ceramah dan Tanya jawab serta pelaksanaan latihan yoga prenatal yang diberikan kepada ibu hamil di Puskesmas Tamalanrea Jaya Kota Makassar. Peserta terdiri dari 25 orang 
Pelaksanaan Yoga Prenatal

Pada pertemuan pertama di sesi awal selama proses penyuluhan, ibu hamil tampak antusias mendengarkan informasi yang diberikan dan beberapa diantaranya memberikan pertanyaan dan tanggapan sehubungan dengan manfaat yoga prenatal setelah penyuluhan selesai, di sesi selanjutnya ibu hamil dengan usia kehamilan ≥ 24 minggu tampak semangat mengikuti latihan yoga prenatal sesuai dengan arahan dari instruktur, sedangkan ibu hamil dengan usia kehamilan kurang dari 24 minggu tampak memperhatikan dan beberapa kali diizinkan untuk mengikutu gerakan – gerakan tertentu yang masih aman untuk dilakunkan sesuai petunjuk instruktur yoga prenatal. Di akhir sesi ibu hamil menyampaikan manfaat yang mereka rasakan setelah pelaksanaan yoga prenatal dan berharap agar kegiatan ini terus berlanjut.
Pelaksanaan Yoga Prenatal

Pada pertemuan kedua tampak peningkatan jumlah ibu hamil yang ingin mengikuti yoga prenatal, hal ini menunjukkan perubahan perilaku dimana ibu hamil sadar akan pentingnya melakukan olah fisik dan psikologi serta meningkatkan kesadaran ibu hamil tenteng pemberdayaan diri agar tetap sehat dalam masa kehamilan melalui latihan yoga prenatal. Setelah pelaksanaan latihan yoga prenatal ibu hamil dilatih untuk melakukan relaksasi pernafasan yang dapat memberikan ketenangan batin dan mengurangi rasa nyeri. Diakhir sesi beberapa ibu hamil mengajukan pertanyaan, menyampaikan bahwa kendala yang mereka rasakan saat melakukan beberapa aktifitas karena kondisi kehamilan menjadi berkurang dan harapannya agar kegiatan ini dilaksanakan secara berkelanjutan.

Evaluasi post test yang dilakukan menunjukkan semakin pahamnya ibu hamil tentang manfaat yoga dan tehnik relaksasi sehingga dianggap berdaya dalam menjaga kesehatan fisik dan psikologi (72%) dan belum berdaya untuk menjaga kesehatan fisik dan psikologi melalui pelaksanaan yoga dan tehnik relaksasi (72%)


Upaya Peningkatan Hb Pada Ibu Hamil Dengan Pemberian Susu Tinggi Zat Besi Dan Pemberian tablet FE



Uliarta Marbun, S.ST.,M.Kes dan Arweni Puspitasari, S.ST, dosen tetap STIKES Nani Hasanuddin Makassar melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat sebagai salah satu kewajiban dosen dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui Upaya Peningkatan Hb Pada Ibu Hamil Dengan Pemberian Susu Tinggi Zat Besi Dan Pemberian tablet  FE. Kegiatan ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Bowong Cindea Kabupaten  Pangkep dengan jangka waktu pelaksanaan November 2017 - Februari 2018.

Anemia pada ibu hamil merupakan salah satu masalah yang sampai saat ini masih terdapat di Indonesia yang dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi. Di tingkat nasional, prevalensi anemia masih cukup tinggi. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2005, menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada wanita usia subur 17-45 tahun sebesar 39.5 %. Pemberian zat besi pada ibu hamil merupakan salah satu syarat pelayanan kesehatan K4 pada ibu hamil. Dimana jumlah suplemen zat besi yang diberikan selama kehamilan ialah sebanyak 90 tablet (Fe). Zat besi merupakan mineral yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain digunakan untuk pembentukan sel darah merah, zat besi juga berperan sebagai salah satu komponen dalam membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat pada tulang, tulang rawan, dan jaringan penyambung), serta enzim.

Sasaran  dalam  kegiatan ini adalah  ibu  hamil dapat melakukan deteksi dini dan penanggulangan  anemia dengan melakukan pemeriksaan hb dan pemberian tablet fe minimal 90 tablet selama masa kehamilan. pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah memberikan pelayanan  kesehatan  kepada ibu hamil terkait dengan permasalahan tingginya angka kejadian anemia pada kehamilan yang dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayi baru lahir. 
Adapun luaran kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah :
  1. Memberikan pengetahuan kepada ibu hamil yang masih memiliki pengetahuan yang kurang tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan
  2. Memberikan pelayanan pemeriksaan haemoglobin pada ibu hamil sebagai deteksi dini adanya kejadian anemia.
  3. Pemberian tablet fe pada ibu hamil baik yang anemia maupun yang tidak anemia sebagai tindakan pencegahan dan pengobatan anemia
  4. Menyadarkan ibu hamil untuk memeriksakan hb minimal 2kali selama kehamilan dan memahami faktor penyebab anemia serta upaya pencegahannya.
Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk pemberian pendidikan  kesehatan serta pemeriksaan kesehatan yaitu pemeriksaan hb pada ibu hamil dan pemberian tablet fe untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang pentingnya mengkonsumsi tablet fe selama hamil serta peningkatan kualitas kesehatan ibu dan janinnya dengan menggunakan  metode ceramah dan diskusi dilanjutkan dengan  pemeriksaan  hb pada ibu hamil bekerjasama dengan  petugas laboratorium  puskesmas bowong cindea  kabupaten  pangkep serta pemberian  tablet fe bersama bidan  pelaksana puskesmas. Peserta ibu hamil yang mengikuti kegiatan sebanyak 32 orang.
Pemaparan Materi

Dalam pelaksanaan  kegiatan  ini, peserta antusias menyimak materi yang di berikan seputar pengertian kehamilan, pentingnya pemeriksaan kehamilan, pentingnya  pemeriksaan  hb dan pentingnya konsumsi tablet fe selama kehamilan .
Setelah diberikan materi pendidikan kesehatan kepada ibu hamil, dilakukan pemeriksaan hb dan pemberian  tablet fe selanjutnya dilakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan pemeriksaan hb dan pemberian tablet Fe dengan jangka waktu satu bulan setelah kegiatan ( pemeriksaaan hb,  pemberian susu ibu hamil dan pemberian tablet Fe ) oleh Dosen dan petugas kesehatan  (bidan  pelaksana puskesmas dan petugas laboratorium). Hasil evaluasi menunjukan bahwa terjadi peningkatan kadar Hb pada ibu hamil yang mengalami anemia sedang menjadi anemia ringan, dari anemia ringan menjadi tidak anemia dan yang tidak anemia tetap dalam keadaan normal.
Peserta Antusias dalam Menyimak Materi

Tahap berikutnya direncanakan untuk melakukan evaluasi continue pada ibu hamil yang telah secara rutin mengkonsumsi makananan atau minuman yang mengandung zar besi dan tablet fe selama hamil sampai melahirkan  hingga masa nifas berlangsung. Untuk meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber besi terutama dari protein hewani seperti daging sehingga walaupun tetap mengonsumsi protein nabati diharapkan konsumsi protein hewani lebih besar dibandingakn protein nabati, hal ini tentunya bisa diwujudkan dengan memanfaatkan pekarangan sekitar rumah warga ( ibu hamil).


Optimalisasi Pemberian Imunisasi pada Bayi dan Balita


Irnawati,S.ST.,M.Keb melaksanakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat melalui kegiatan "Optimalisasi Pemberian Imunisasi pada Bayi dan Balita" yang dilaksanakan di Pustu Desa Tassese, Kab. Gowa. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini didasarkan melalui beberapa masalah yang ada di lingkup masyarakat.

Anak merupakan buah hati yang sangat berharga bagi orang tua, yang kelak akan menjadi penerus bangsa. Untuk mempersiap kan penerus bangs  tersebut, diperlukan anak-anak Indonesia yang sehat fisik maupun mental sehingga bermanfaat untuk bangsa dan negara. Asuhan dan perlindungan terhadap penyakit yang dapat menghambat tumbuh kembang anak menuju dewasa yang berkualitas tinggi diperlukan dalam mewujudkan hal tersebut Imunisasi merupakan upaya untuk meningkatkan kekebalan pada tubuh dan mencegah penyakit serius yang mengancam jiwa. Selama beberapa minggu setelah kelahiran, bayi memiliki sistem perlindungan terhadap penyakit yang diturunan melalui plasenta dari ibunya sebelum lahir. Namun, perlindungan ini hanya bersifat sementara dan akan menghilang dalam beberapa bulan. Untuk itulah pemberian imunisasi diperlukan guna memberikan kekebalan terhadap penyakit pada balita di atas ambang perlindungan 

Sikap, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu juga merupakan hal yang penting, karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan sikap, perilaku, dan kepercayaan ibu tentang kesehatan sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi status imunisasi. Masalah pengertian dan keikutsertaan orang tua dalam program imunisasi tidak akan menjadihalangan yang besar bila pendidikan yang memadai tentang hal tersebut diberikan. Berdasarkan penjelasan inilah Irnawati, S.ST.,M.Keb melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan judul Optimalisasi Pemberian Imunisasi pada Bayi dan Balita.

Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat berbasis ipteks bagi masyarakat (ibM) ini adalah ibu yang mengikuti pendidikan kesehatan tentang imunisasi di Pustu Tassese dan PusKesmas Manuju, Sulawesi Selatan yang mana berdasarkan hasil survey Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, Angka Kematian Balita di Indonesia sebesar 40/10.000 Kelahiran Hidup. Bila dihitung secara matematis, berarti dalam setiap jamnya terjadi 22 kematian Bayi dan balita di Indonesia, suatu jumlah yang tergolong fantastis untuk ukuran di era globalisasi. 
Oleh karena itu Depkes telah meluncurkan berbagai program kesehatan untuk menanggulangi hal ini..Berdasarkan pertimbangan ini maka sangant perlu mengajari ibu dan mengoptimalisasikan pemberian makanan pendamping ASI sesuai dengan rentang umur Bayi sehingga dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian Bayi. Esensi pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat berbasis IbM ini adalah Memberi solusi dari permasalahan Ibu yang memiliki Bayi dan Balita di di Desa Tassese Kab. Gowa di bidang kesehatan.

Luaran yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah :
  1. Ibu mengetahui dan memahami Manfaat dan pentingnya Imunisasi pada Bayi dab Balita 
  2. Ibu Mengetahui dan memahami Jenis-Jenis Imunisasi, efek samping, tanda imunisasi berhasil pada jenis  imunisasi tertentu dan waktu yang tepat untuk imunisasi.
  3. Ibu Mengetahui resiko yang bisa terjadi jika Bayi dan Balita tidak mendapatkan Imunisasi.
  4. Meningkatnya jumlah bayi dan balita yang mendapatkan Imunisasi sesuai umur
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi yang diberikan pada masyarakat di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, yang bertindak sebagai pemateri adalah Irnawati, S.ST., M.Keb dengan materi pendidikan kesehatan tentang Optimalisasi Pemberian imunisasi pada bayi dan balita di Desa Tassese Kecamatan Manuju kabupaten gowa dengan melibatkan 4 orang mahasiswa. Dengan adanya penyuluhan ini di harapkan akan menambah pengetahuan masyarakat tentang pentingnya Imunisasi pada bayi dan balita. Masyarakat sangat senang dengan kegiatan ini dan memperhatikan apa yang disampaikan.

Setelah diberikannya materi penyuluhan, maka satu bulan kemudian dilakukan evaluasi kepada masyarakat. Hasil evaluasi menunjukan bahwa masyarakat memahami dan bersedia untuk membawa anaknya mendapatkan imunisasi ketika sudah jadwal imunisasi. Hal ini diperkuat dengan meningkatnya jumlah bayi dan balita yang ikut serta dalam pemberian imunisasi, yaitu sebelum penyuluhan dari 45 bayi dan balita hanya 10 orang yang mau diberikan imunisasi dan setelah dilakukan penyuluhan meningkat menjadi 25 orang bayi dan balita yang ikut pemberian imubisasi dari 45 orang bayi dan balita.